Selasa, 28 Oktober 2014

BL Sean Davis Imajiner Cinta

SEAN DAVIS

Setelah berduka, aku memutuskan untuk menjadi guru.
            Aku mulai berduka ketika kehilangan istriku dua tahun sebelas hari yang lalu. Dia sangat cantik. Istriku berasal dari Kuba. Wajahnya berciri latin dengan kulit berwarna karamel. Ia seorang guru Biologi di sekolah khusus laki-laki bernama Prep Hill Boys di London. Ia meninggal karena mengidap tumor otak akut.
            Dirinya begitu unik. Ia suka sekali pergi ke kebun binatang, memotret serangga, memberi makan burung dara, dan mengelus sapi di peternakan. Itulah yang dia lakukan selain mengajar di Prep Hill Boys.
            Aku seorang dokter bedah. Tapi aku tidak terlalu senang membahas tentang pekerjaanku. Karena terakhir kali aku membedah seorang pasien, pasien tersebut adalah istriku.
            Tapi aku sangat bersyukur memiliki seorang anak laki-laki yang manis. Aku juga sudah tidak merasa sedih lagi walau dia tuna rungu. Lima tahun yang lalu ia lahir di kampong halamanku di Bogor. Dia sangat manis dan cantik. Jadi kami menamainya Bello.
            Jadi, mengapa aku memutuskan ingin menjasi guru? Aku ingin melanjutkan usaha mendiang istriku untuk mengajar tentang sesuatu  yang ia cintai. Makhluk hidup.
            Tentu saja aku ingin tetap menjadi dokter. Karena Rumah Sakit Besar milik keluargaku itulah yang dapat membantuku menyongsong masa depan Bello. Tapi aku ingin meraba dan merasakan yang Istriku, Olivia lakukan selama setengah hari-harinya.
            Jadi, setelah aku mendapat izin mengajar, aku langsung  mendaftrkan diri sebagai guru Biologi di Prep Hill Boys.
            Namun, aku menjadi sangat bingung soal Bello. Aku mengajaknya ke Prep Hill Boys dan saat aku harus pergi mengajar di luar, ia tidak mau melepasku. Ia terus-terusan menggandeng tanganku.
            Karena Bello tuna rungu, ia menjadi sangat takut jika dia tidak berpegangan tangan pada seseorang yang dikenalnya. Saat aku praktek di rumah sakit, biasanya aku menitipkannyapada adikku yang seorang suster.
            Tapi di sekolah ini, tidak ada yang Bello kenal. Jadi aku membawanya ke kelas. Pada mulanya tidak masalah, karena aku bisa saja terus berbicara pada murid-muridku dengan Bello berada di sampingku. Namun, di hari pertama aku mengajar, aku langsung harus menajar praktikum di laboratorium. Karena aku harus member instruksi menggunakan mikroskop, aku terus memintanya untuk duduk manis sebentar. Namun Bello terus  menolak.
            Saat aku begitu kebingungan, seorang muridku menghampiriku. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun wajahnya tampan sekaligus cantik seperti Bello. Rambutnya yang hitam membuatnya terlihat misterius. Sementara diriku yang Sunda Inggris ini tentu saja sudah sewajarnya berambut hitam.
            Matanya yang hijau begitu menyegarkan lawan bicaranya, dan itulah yang kurasakan ketika ia bilang, “Bagaimana kalau kau berpegangan padaku saja?” Sambil menggerakkan tangannya sebagai bahasa isyarat pada Bello.
            Bello merasa ragu pada mulanya namun ia menyambut tangan anak bermata hijau itu.
            “Kau bisa bahasa isyarat?” tanyaku sambil mengangkat alis.
            “Kakak perempuanku juga tuna rungu,” Jawabnya sambil tersenyum. “Silakan lakukan yang ingin Anda lakukan, Pak. Saya hanya bertugas memotret proses dan hasil pengamatan.”
            “Eh, terima kasih.” Ucapku gugup Mungkinkah seorang murid membuat gurunya menjadi gugup? “Siapa namamu?”
            “Davis. Sean Davis.” Jawabnya. Ia mengulang namanya sambil membuat isyarat agar Bello mengetahui namanya juga.
            “Sekali lagi, terima kasih.” Ucapku sambil tersenyum lega.
            “Sama-sama Pak Alexis.” Ia tersenyum kemudian kembali duduk bersebelahan dengan Bello.
            Aku melanjutkan pelajaranku dengan baik sambil sesekali melihat Bello dan Davis.
            Dan ketika itulah aku melihat konektivitas yang sangat kukenal. Ada saat dimana Bello merasa aman untuk tidak berpegangan tangan. Hal itu tidak pernah terjadi selain ketika Bello bersama Olivia. Saat ketika ia percaya bahwa meski ia tidak memegang tangan orang itu, orang itu tidak akan menghilang. Dan itu adalah sebuah bentuk kepercayaan.
            Dan aku tidak pernah menduga ia akan percaya pada Sean Davis yang baru ia temui. Aku tentu saja tidak meremehkan Sean Davis. Namun begitu mengherankan karena Bello bahkan tidak sampai sepercaya itu pada ayahnya.
            Aku, Tom Alexis. Umur dua puluh delapan tahun. Kalah dengan anak kelas dua SMA. Selama ini aku selalu berusaha untuk menggantikan peran Olivia. Tapi aku dikalahkan oleh orang yang baru memulai usahanya.
            Sean Davis memiliki karisma aneh yang sangat kukenal. Ketulusannya terasa hingga ke benak orang lain yang membuat siapapun terpikat. Seperti Olivia yang lebih tersembunyi. Karismanya mengalir lebih lembut. Tidak bermaksud mengejutkan dan membuat berdebar-debar. Senyumnya teduh, alih-alih riang. Karakternya lebih rumit dan sulit diterka. Namun dalam dirinya aku memang menemuka Olivia. Ada intrik tertentu yang membuat dirinya mengingatkanku pada Olivia.
            Tidak. Aku tidak mungkin mulai menyukainya. Anak itu mengagumkan tentu saja. Tidak mustahil ada seseorang yang mirip dengan Olivia.
            Namun aku merasa bahwa hasratku mulai kehilangan karatnya. Gigi roda mulai berputar. Sistemku kembali bangkit.
*****
            Dua bulan sebelas hari. Sepanjang hari sibukku mengajar di Prep Hill Boys. Aku lupa menyesap keberadaan Olivia yang tertinggal. Aku lupa meraba dan merasakan. Dan diriku yang pelupa menumbuhkan perasaan bersalah. Diriku yang pelupa karena kerinduanku yang terbayar oleh kehadiran Sean Davis.
            Anak itu memenuhi pikiranku dan duniaku. Aku jadi tidak bisa membedakan takdir dan perbuatan dosa. Aku tidak memilih jatuh cinta pada laki-laki. Maksudku, anak laki-laki.
            Kemudian aku mulai membayangkan Olivia sebagai laki-laki. Rambutnya memendek, dadanya mendatar, bahunya sedikit melebar, dan memiliki sesuatu yang juga kumiliki diantara kedua kakiku. Apa aku akan tetap mencintainya? Ya.
            Dan sebaliknya, aku membayangkan Sean Davis yang meramping dan membulat menjadi wanita. Dan aku mengecap keyakinan yang aneh bahwa aku akan tetap jatuh cinta padanya.
            Dan semua menjadi sinkron. Olivia Alexis dan Sean Davis seperti perbedaan yang bertumpuk kemudian memiliki cahaya dari sumber yang sama. Seperti bulan dan matahari. Dan aku adalah bumi yang berorbit dan diorbitkan. Dan Bello adalah gravitasi.
            Konsep tersebut sejujurnya membuatku mual.
*****
Dua tahun sebelas hari. Selama itulah Sean Davis menjadi muridku yang terbaik. Baik dalam hatiku atau dalam laporan nilai.
            Ia sering bertanya soal pelajaran dan menanyakan kabar Bello.
            Dan ia memelukku riang ketika hari kelulusan dan lulus sebagai lulusan dengan nilai terbaik. Pelukannya membuatku sedikit terkejut kemudian tersipu.
            Aku kemudian menawarkan diri untuk mengantarnya pulang karena ia dating ke sekolah sendirian di hari kelulusan karena keluarganya yang masih hidup hanya kakak perempuannya yang tuli. Betapa anehnya menyaksikan keriangan Sean Davis setelah dirinya dahulu berduka karena kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan. Kondisinya kurang lebih sama sepertiku atau bahkan mungkin lebih buruk. Dan itu membuat diriku merasa sangat malu.
*****
Enam tahun sebelas hari. Saat Bello memasuki masa pubernya, akulah yang justru mulai bergejolak.
            Sean Davis semakin jauh memasuki hidupku. Jadilah aku bagai Humbert Lolita*. Begitu menyimpang, begitu menyesatkan, namun begitu memikat.
            Bello mulai bercerita kepada teman-temannya di sekolah khusus tuna rungu kalau ia memiliki dua ayah. Reaksinya luar biasa. Kagum, tertawa, mengejek. Tapi Bello tidak peduli.
            Hari-hariku menyenangkan tentu saja. Namun suatu hari Sean Davis menjadi dingin. Olivia-nya meredup. Dan hal itu ternyata diawali dengan Olivia juga.
            Sebenarnya peristiwa tersebut membuatku tersadar bahwa Sean Davis sangat memahami diriku.
            Suatu hari, saat Sean Davis menginap di rumahku, aku menemukannya berdiri dengan kaos bertuliskan I’m a multicellular bergambar lima ponsel berformasi membentuk segi lima serta celana pendek bermotif kotak-kotak hitam putih melekat pada dirinya. Busananya yang santai sama sekali tidak mengurangi wajahnya yang mendingin. Ia tengah menggenggam fotoku bersama Olivia beberapa tahun silam.
            Aku hanya mengenakan handuk yang justru membuatku semakin gugup.
            “Kau… suami mendiang Bu Alexis.” Suaranya bergetar dan menimbulkan rasa pahit di udara.
            “Kupikir kebetulan… kau bernama Alexis… yang hanya membuatku berpikir… dirimu Bu Alexis yang tersembunyi. Dan memang seperti itulah kau terlihat.”
            Apa?
            Sejenak keheningan yang memberatkan kami menyelimuti. Kemudian aku mulai bersuara.
            “Apa maksudmu?” Tanyaku.
            Tiba-tiba saja ia mulai terisak dan terduduk di tempat tidur. Mulai menangis.
            “Aku tidak tahu. Hal ini membuatku mual… bagaimana aku menyebutnya? Aku jatuh cinta pada lelaki yang juga jatuh cinta pada diriku dan seorang wanita yang juga mencintai lelaki tersebut, dan wanita tersebut juga membuatku jatuh cinta.”
            “Eh, tunggu. Bahasamu kacau. Jadi kondisi kita ternyata kurang lebih sama?”
            Kepalaku pusing. Jujur saja konsep tersebut juga membuatku mual. Jadi kami sama-sama jatuh cinta pada Olivia dan sekarang kami saling jatuh cinta?
            “Aku… tidak tahu… maksudku, bagaimana jika aku sudah mengenalmu sebelum Bu Alexis meninggal? Perasaanku mungkin tidak akan sama. Aku takut—hubungan kita hanya didasarkan pada pemilihan waktu. Dan…”
            Aku menghampirinya sedikit terburu-buru, kemudian mendorongnya hingga berbaring kemudian melumat bibirnya. Sean sangat terkejut. Meronta pada mulanya namun kemudia tergolek diam.
            “Jika memang hubungan kita hanya didasarkan pada pemilihan waktu, aku bersyukur bertemu denganmu setelah Olivia meninggal. Karena jika bukan karena itu, kita berdua akan terus bermuram durja karena kehilangan Olivia. Aku sejujurnya juga merasa bingung dan ragu.
            “Aku juga berpikir dirimu adalah Olivia yang tersembunyi. Aku memisalkan konsep kisahku denganmu dan Olivia dengan tata surya. Dan sekarang bahkan permisalan tersebut menjadi sulit dijelaskan.
            “Dan satu yang pasti. Yang menyatukan kita bukan hanya usia yang sangat berbeda. Melainkan persamaan—jenis kelamin, kondisi, dan perasaan. Dan aku tidak keberatan dengan hal itu.
            “Dan teori cinta pun semakin membingungkan. Aku juga belum mengerti. Tapi aku yakin bahkan tata surya adalah teori yang jauh lebih sederhana.”
            Kemudian Sean Davis memelukku dan menyingkap hndukku perlahan.

*Humbert adalah tokoh utama dari novel berjudul Lolita karya orang Russia bernama Vladimir Nobokov. Novel tersebut mengisahkan seorang pria paruh baya, Humbert Humbert (nama samaran), yang menyukai putri tirinya, gadis berusia 12 tahun yang bernama Dolores (Lolita). Sempat dilarang beredar di beberapa Negara. Namun dianggap sebagai salah satu novel terbaik sepanjang sejarah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar