SEAN
DAVIS
Setelah berduka, aku memutuskan untuk menjadi guru.
Aku
mulai berduka ketika kehilangan istriku dua tahun sebelas hari yang lalu. Dia
sangat cantik. Istriku berasal dari Kuba. Wajahnya berciri latin dengan kulit
berwarna karamel. Ia seorang guru Biologi di sekolah khusus laki-laki bernama
Prep Hill Boys di London. Ia meninggal karena mengidap tumor otak akut.
Dirinya
begitu unik. Ia suka sekali pergi ke kebun binatang, memotret serangga, memberi
makan burung dara, dan mengelus sapi di peternakan. Itulah yang dia lakukan
selain mengajar di Prep Hill Boys.
Aku
seorang dokter bedah. Tapi aku tidak terlalu senang membahas tentang
pekerjaanku. Karena terakhir kali aku membedah seorang pasien, pasien tersebut
adalah istriku.
Tapi
aku sangat bersyukur memiliki seorang anak laki-laki yang manis. Aku juga sudah
tidak merasa sedih lagi walau dia tuna rungu. Lima tahun yang lalu ia lahir di
kampong halamanku di Bogor. Dia sangat manis dan cantik. Jadi kami menamainya
Bello.
Jadi,
mengapa aku memutuskan ingin menjasi guru? Aku ingin melanjutkan usaha mendiang
istriku untuk mengajar tentang sesuatu
yang ia cintai. Makhluk hidup.
Tentu
saja aku ingin tetap menjadi dokter. Karena Rumah Sakit Besar milik keluargaku
itulah yang dapat membantuku menyongsong masa depan Bello. Tapi aku ingin
meraba dan merasakan yang Istriku, Olivia lakukan selama setengah hari-harinya.
Jadi,
setelah aku mendapat izin mengajar, aku langsung mendaftrkan diri sebagai guru Biologi di Prep
Hill Boys.
Namun,
aku menjadi sangat bingung soal Bello. Aku mengajaknya ke Prep Hill Boys dan
saat aku harus pergi mengajar di luar, ia tidak mau melepasku. Ia terus-terusan
menggandeng tanganku.
Karena
Bello tuna rungu, ia menjadi sangat takut jika dia tidak berpegangan tangan
pada seseorang yang dikenalnya. Saat aku praktek di rumah sakit, biasanya aku
menitipkannyapada adikku yang seorang suster.
Tapi
di sekolah ini, tidak ada yang Bello kenal. Jadi aku membawanya ke kelas. Pada
mulanya tidak masalah, karena aku bisa saja terus berbicara pada murid-muridku
dengan Bello berada di sampingku. Namun, di hari pertama aku mengajar, aku
langsung harus menajar praktikum di laboratorium. Karena aku harus member
instruksi menggunakan mikroskop, aku terus memintanya untuk duduk manis
sebentar. Namun Bello terus menolak.
Saat
aku begitu kebingungan, seorang muridku menghampiriku. Tubuhnya tidak terlalu
tinggi, namun wajahnya tampan sekaligus cantik seperti Bello. Rambutnya yang
hitam membuatnya terlihat misterius. Sementara diriku yang Sunda Inggris ini
tentu saja sudah sewajarnya berambut hitam.
Matanya
yang hijau begitu menyegarkan lawan bicaranya, dan itulah yang kurasakan ketika
ia bilang, “Bagaimana kalau kau berpegangan padaku saja?” Sambil menggerakkan
tangannya sebagai bahasa isyarat pada Bello.
Bello
merasa ragu pada mulanya namun ia menyambut tangan anak bermata hijau itu.
“Kau
bisa bahasa isyarat?” tanyaku sambil mengangkat alis.
“Kakak
perempuanku juga tuna rungu,” Jawabnya sambil tersenyum. “Silakan lakukan yang
ingin Anda lakukan, Pak. Saya hanya bertugas memotret proses dan hasil
pengamatan.”
“Eh,
terima kasih.” Ucapku gugup Mungkinkah seorang murid membuat gurunya menjadi
gugup? “Siapa namamu?”
“Davis.
Sean Davis.” Jawabnya. Ia mengulang namanya sambil membuat isyarat agar Bello
mengetahui namanya juga.
“Sekali
lagi, terima kasih.” Ucapku sambil tersenyum lega.
“Sama-sama
Pak Alexis.” Ia tersenyum kemudian kembali duduk bersebelahan dengan Bello.
Aku
melanjutkan pelajaranku dengan baik sambil sesekali melihat Bello dan Davis.
Dan
ketika itulah aku melihat konektivitas yang sangat kukenal. Ada saat dimana
Bello merasa aman untuk tidak berpegangan tangan. Hal itu tidak pernah terjadi
selain ketika Bello bersama Olivia. Saat ketika ia percaya bahwa meski ia tidak
memegang tangan orang itu, orang itu tidak akan menghilang. Dan itu adalah
sebuah bentuk kepercayaan.
Dan
aku tidak pernah menduga ia akan percaya pada Sean Davis yang baru ia temui.
Aku tentu saja tidak meremehkan Sean Davis. Namun begitu mengherankan karena
Bello bahkan tidak sampai sepercaya itu pada ayahnya.
Aku,
Tom Alexis. Umur dua puluh delapan tahun. Kalah dengan anak kelas dua SMA.
Selama ini aku selalu berusaha untuk menggantikan peran Olivia. Tapi aku
dikalahkan oleh orang yang baru memulai usahanya.
Sean
Davis memiliki karisma aneh yang sangat kukenal. Ketulusannya terasa hingga ke
benak orang lain yang membuat siapapun terpikat. Seperti Olivia yang lebih
tersembunyi. Karismanya mengalir lebih lembut. Tidak bermaksud mengejutkan dan
membuat berdebar-debar. Senyumnya teduh, alih-alih riang. Karakternya lebih
rumit dan sulit diterka. Namun dalam dirinya aku memang menemuka Olivia. Ada
intrik tertentu yang membuat dirinya mengingatkanku pada Olivia.
Tidak.
Aku tidak mungkin mulai menyukainya. Anak itu mengagumkan tentu saja. Tidak
mustahil ada seseorang yang mirip dengan Olivia.
Namun
aku merasa bahwa hasratku mulai kehilangan karatnya. Gigi roda mulai berputar.
Sistemku kembali bangkit.
*****
Dua
bulan sebelas hari. Sepanjang hari sibukku mengajar di Prep Hill Boys. Aku lupa
menyesap keberadaan Olivia yang tertinggal. Aku lupa meraba dan merasakan. Dan
diriku yang pelupa menumbuhkan perasaan bersalah. Diriku yang pelupa karena
kerinduanku yang terbayar oleh kehadiran Sean Davis.
Anak
itu memenuhi pikiranku dan duniaku. Aku jadi tidak bisa membedakan takdir dan
perbuatan dosa. Aku tidak memilih jatuh cinta pada laki-laki. Maksudku, anak laki-laki.
Kemudian
aku mulai membayangkan Olivia sebagai laki-laki. Rambutnya memendek, dadanya
mendatar, bahunya sedikit melebar, dan memiliki sesuatu yang juga kumiliki
diantara kedua kakiku. Apa aku akan tetap mencintainya? Ya.
Dan
sebaliknya, aku membayangkan Sean Davis yang meramping dan membulat menjadi
wanita. Dan aku mengecap keyakinan yang aneh bahwa aku akan tetap jatuh cinta
padanya.
Dan
semua menjadi sinkron. Olivia Alexis dan Sean Davis seperti perbedaan yang
bertumpuk kemudian memiliki cahaya dari sumber yang sama. Seperti bulan dan
matahari. Dan aku adalah bumi yang berorbit dan diorbitkan. Dan Bello adalah
gravitasi.
Konsep
tersebut sejujurnya membuatku mual.
*****
Dua tahun sebelas hari. Selama itulah Sean Davis
menjadi muridku yang terbaik. Baik dalam hatiku atau dalam laporan nilai.
Ia
sering bertanya soal pelajaran dan menanyakan kabar Bello.
Dan
ia memelukku riang ketika hari kelulusan dan lulus sebagai lulusan dengan nilai
terbaik. Pelukannya membuatku sedikit terkejut kemudian tersipu.
Aku
kemudian menawarkan diri untuk mengantarnya pulang karena ia dating ke sekolah
sendirian di hari kelulusan karena keluarganya yang masih hidup hanya kakak
perempuannya yang tuli. Betapa anehnya menyaksikan keriangan Sean Davis setelah
dirinya dahulu berduka karena kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan.
Kondisinya kurang lebih sama sepertiku atau bahkan mungkin lebih buruk. Dan itu
membuat diriku merasa sangat malu.
*****
Enam tahun sebelas hari. Saat Bello memasuki masa
pubernya, akulah yang justru mulai bergejolak.
Sean
Davis semakin jauh memasuki hidupku. Jadilah aku bagai Humbert Lolita*. Begitu
menyimpang, begitu menyesatkan, namun begitu memikat.
Bello
mulai bercerita kepada teman-temannya di sekolah khusus tuna rungu kalau ia
memiliki dua ayah. Reaksinya luar biasa. Kagum, tertawa, mengejek. Tapi Bello
tidak peduli.
Hari-hariku
menyenangkan tentu saja. Namun suatu hari Sean Davis menjadi dingin. Olivia-nya meredup. Dan hal itu ternyata
diawali dengan Olivia juga.
Sebenarnya
peristiwa tersebut membuatku tersadar bahwa Sean Davis sangat memahami diriku.
Suatu
hari, saat Sean Davis menginap di rumahku, aku menemukannya berdiri dengan kaos
bertuliskan I’m a multicellular
bergambar lima ponsel berformasi membentuk segi lima serta celana pendek
bermotif kotak-kotak hitam putih melekat pada dirinya. Busananya yang santai
sama sekali tidak mengurangi wajahnya yang mendingin. Ia tengah menggenggam
fotoku bersama Olivia beberapa tahun silam.
Aku
hanya mengenakan handuk yang justru membuatku semakin gugup.
“Kau…
suami mendiang Bu Alexis.” Suaranya bergetar dan menimbulkan rasa pahit di
udara.
“Kupikir
kebetulan… kau bernama Alexis… yang hanya membuatku berpikir… dirimu Bu Alexis
yang tersembunyi. Dan memang seperti itulah kau terlihat.”
Apa?
Sejenak
keheningan yang memberatkan kami menyelimuti. Kemudian aku mulai bersuara.
“Apa
maksudmu?” Tanyaku.
Tiba-tiba
saja ia mulai terisak dan terduduk di tempat tidur. Mulai menangis.
“Aku
tidak tahu. Hal ini membuatku mual… bagaimana aku menyebutnya? Aku jatuh cinta
pada lelaki yang juga jatuh cinta pada diriku dan seorang wanita yang juga
mencintai lelaki tersebut, dan wanita tersebut juga membuatku jatuh cinta.”
Kepalaku
pusing. Jujur saja konsep tersebut juga membuatku mual. Jadi kami sama-sama
jatuh cinta pada Olivia dan sekarang kami saling jatuh cinta?
“Aku…
tidak tahu… maksudku, bagaimana jika aku sudah mengenalmu sebelum Bu Alexis
meninggal? Perasaanku mungkin tidak akan sama. Aku takut—hubungan kita hanya
didasarkan pada pemilihan waktu. Dan…”
Aku
menghampirinya sedikit terburu-buru, kemudian mendorongnya hingga berbaring
kemudian melumat bibirnya. Sean sangat terkejut. Meronta pada mulanya namun
kemudia tergolek diam.
“Jika
memang hubungan kita hanya didasarkan pada pemilihan waktu, aku bersyukur
bertemu denganmu setelah Olivia meninggal. Karena jika bukan karena itu, kita
berdua akan terus bermuram durja karena kehilangan Olivia. Aku sejujurnya juga
merasa bingung dan ragu.
“Aku
juga berpikir dirimu adalah Olivia yang tersembunyi. Aku memisalkan konsep
kisahku denganmu dan Olivia dengan tata surya. Dan sekarang bahkan permisalan
tersebut menjadi sulit dijelaskan.
“Dan
satu yang pasti. Yang menyatukan kita bukan hanya usia yang sangat berbeda.
Melainkan persamaan—jenis kelamin, kondisi, dan perasaan. Dan aku tidak
keberatan dengan hal itu.
“Dan
teori cinta pun semakin membingungkan. Aku juga belum mengerti. Tapi aku yakin
bahkan tata surya adalah teori yang jauh lebih sederhana.”
Kemudian
Sean Davis memelukku dan menyingkap hndukku perlahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar