Selasa, 28 Oktober 2014

Cerpen Imajiner Cinta terkait BL dan Historis






SURAT PANGERAN PINGGIR SARLAT-LA-CANĒDA

Dibanding saat ini, menjilat api rasanya seperti gulali. Jatuh diatas seribu tombak rasanya seperti menghempaskan tubuh ke dalam rengkuhan ranjang bulu angsa. Disula rasanya seperti bercinta. Disulut seindah tubuh berbalut selimut. Tertindih seribu lembu bagaikan bercumbu. Kematian bagai kelahiran. Aniaya seakan kata yang tidak berarti. Konsep yang sudah lama mati.
            Sesuatu yang lebih menyakitkan terangkum dalam mimpiku yang bagai seribu tahun. Aku jadi teramat gila . Tidak waras.
            Hatiku kehilangan eksistensi. Entah terlalu banyak dimasuki hingga pecah. Atau diremukkan dari luar hingga mengkerut seukuran mikroskopis.
Entah apa itu fungsi hati. Yang jelas hal tersebut sudah lama hilang. Yang manapun. Kesetiaan, kepercayaan, loyalitas, dan cinta yang katanya agung itu. Lagipula aku tidak begitu percaya hal-hal itu fungsi yang sebenarnya.
Mereka tidak mengerti. Bukan hanya aku. Phillipe I, Duke dari Orléans juga demikian.Ia menikah, punya beberapa anak. Tapi ia sama-sama menyukai laki-laki sepertiku.
 Oh, percayalah. Aku tidak memilih hidup yang seperti ini. Maafkan diriku yang salah dan tidak beriman. Diriku yang sesat
Oleh Tom Féstller XI
***
            Dahulu kala, walau cinta yang salah adalah aib bahkan dianggap tak mungkin, bahkan pada zaman yang paling kolot, anomali tersebut dapat hidup. Memang tidak banyak. Tapi pasti ada di dalam zaman yang paling dikuasai keteraturan sekalipun.
            Aku dipanggil sebagai Sang Penyelamat yang setia. Aku heran baru dua tahun aku mengabdi setelah menyelamatkan Sang Pangeran dari pembunuh bayaran yang siap menikam lehernya. Memang aku berhasil menyelamatkannya, tapi bukankah mereka terlalu terburu-buru untuk percaya padaku?
            Walaupun pada dasarnya itu bukan hal yang jelek, Bangsa kecil Bonuci di pinggir kota Sarlat-La-Canéda bisa dibilang boleh juga soal kepercayaan. Karena aku sangat menghormati sifat tersebut.
            Tapi sekarang bukan saatnya mensyukuri  kepercayaan yang telah diberikan kepadaku. Dengan tanggung jawab yang telah dikalungkan di leherku ini, aku tidak bisa mendapatkan hal yang tidak aku inginkan namun aku butuhkan.
            Aku mencintai Sang Pangeran. Secara keseluruhan. Semuanya. Dengan berbagai cara. Secara emosi, nafsu, dan sebagainya. Dia menelan bulat-bulat semua hal yang memikatku. Kecantikan, kegagahan. Kelemahan, kekuatan. Ia laki-laki. Tapi terkadang bagai wanita dengan caranya sendiri. Ia menelan sifat persaudaraan, keibuan, dan pemimpin sekaligus. Ia menyapuku bagai buku sayap malaikat. Ia memangkuku, merangkulku, melelehkanku, menyejukkanku. Fisiknya tak mungkin kucela. Aku selalu memukul-mukul pahaku sambil menggigit bibir dan mengeraskan rahangku ketika berdiri mematung memandanginya sedang mandi di bawah pancuran air. Hasratku teramat besar. Namun aku akan gila jika diriku melukainya.
            Sekali lagi, saat ini aku tidak bisa mensyukuri kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadaku. Tidak bisa dalam situasi seperti ini.
            Aku merasa diriku ini menyedihkan membolak-balik tumpukan foto wanita di seluruh kerajaan. Menyedihkan karena aku harus menarik otot mulutku dan berkata, “Bagaimana dengan yang ini? Dia sangat cantik dan pintar. Dia penjahit paling terampil di istana.” Dan fakta bahwa aku tidak suka jika Sang Pangeran memilih seorang wanita. Fakta yang bakal terus kusangkal demi kebahagiaan Pangeran.
            Sang Pangeran merebut foto yang kupegang. Foto tersebut diremasnya kemudian ia lempar ke perapian. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Lalu dengan ketus berkata, “tidak.”
            Aku tercengang beberapa detik karena wajahnya begitu dekat. Wajahku terasa hangat. Kurasa aku merona. Kemudian aku sadar aku harus mengatakan sesuatu.
            “Tapi…”
            Tiba-tiba saja kakiku terasa seperti jeli. Foto-foto lain di tangan kiriku meluncur dan berantakan. Wajahku memanas. Bibirku membara karena dilumat. Leherku meleleh dan rambutku berdesir. Jantungku bertabuh. Aku mendapati diriku semakin terpikat dengannya.
            Ia melepasku. Meninggalkanku yang masih memproses peristiwa.
***
            Lama baru aku sadar aku harus melaksanakan tanggung jawabku. Aku mendatangi kamar Pangeran dengan setumpuk foto. Aku membuka pintu kemudian meletakkan foto-foto tersebut di meja.
            Ia duduk di dekat jendela.
            “Jadi, kurasa Pangeran bisa membantuku menuntaskan hal ini.” Tak kusangka aku bisa berkata setenang itu.
            Sang Pangeran yang sedang memandang jendela berbalik. Alisnya bertaut. Ia berdiri kemudian mendekatiku.
            “Kau tidak mengerti?” tanyanya. “Aku menciummu. Apa kau tidak mengerti juga? Aku tidak mau menikah!”
            “Kau tak mengerti. Tanggung jawabku…”
            “Kau yang tidak mengerti yang kurasakan terhadapmu.” Ia bicara hampir seperti pada dirinya sendiri.
            Ia salah. Aku sudah terpikir kalau dia mencintaiku. Tapi rasanya aku tidak pantas membalasnya.
            “Aku harus menjagamu,” tukasku.
            “Menjagaku supaya tidak bahagia?” ekiknya kesal.
            “Tidak…”
            “Aku mencintaimu.”
            Aku tidak bisa mendebatnya lagi. Hal yang aku inginkan tapi tidak boleh kudapatkan bagai wortel untuk umpan kuda.
            Sang Pangeran mendekatiku. Wajahnya yang cantik menengadah supaya bisa memandangiku. Tangan kanannya merengkuh pipiku.
            “Kau tak mencintaiku.” Desahnya pelan. Kuterka kalimat itu bermaksud untuk mengasihani dirinya sendiri.
            “Kau salah.” Tukasku agak terlalu cepat. Kemudian Sang Pangeran tersenyum.
“Kau ingin aku bahagia?” anyanya dengan suara yang temaram. Matanya meneduh. Sangat berbeda dengan saat alisnya bertaut.
            “Tentu.” Aku terbunuh cinta.
            “Aku mau pergi bersamamu. Bersamamu selamanya.” Ia menelusupkan kedua tangannya ke pinggangku. Membuat kedua tanganku dengan senang hati mendekapnya erat.
            Aku mengingkari kepercayaan. Aku berkhianat untuk memenuhi kebutuhanku. Pada akhirnya tanggung jawabku hanya bertahan dua tahun.
***
            Entah bagaimana Negeri Bonuci tanpa diriku. Bodohnya aku.
            Saat itu aku merasa seluruh dunia tidak ada artinya asal aku bisa bersama Killi Sang Penyelamat. “Bersama” yang berarti menjadikannya kekasihku. Aku tak dapat menahan diri.
            Ah, Pangeran Tom yang pemberani dan rendah hati. Yang hampir tamat riwayatnya karena menolong anak kecil tak bersalah yang menjadi budak. Si penjual menyewa pembunuh bayaran untuk membunuhku. Ketika diriku begitu dekat dengan kematian, panah menembus tangan si pembunuh bayaran. Demikian Killi Sang Penyelamat menyelamatkannya.
            Killi yang bodoh. Aku begitu mencintai kebodohannya. Dan saat ini aku begitu menginginkan kondisi dimana kami seutuhnya saling memiliki.
            Aku bukannya tidak memikirkan Negeri Bonuci sama sekali. Aku baru saja mengangkat seorang perwakilan dari diriku. Kubilang untuk berjaga-jaga saja. Dan tentu saja aku bilang pada Ayah bahwa hanya Ayah yang tahu tentang hal ini. Setidaknya mereka tidak akan terlalu sibuk mencariku jika aku sudah punya pengganti diriku.
            Barangkali tidak ada yang menyadarinya. Aku tidak sejijik itu pada perempuan. Malahan aku punya misi dalam hidupku sendiri yang melibatkan kaum mereka. Mempercantik wanita.
            Killi bilang apa soal wanita penjahit paling terampil di istana? Cantik dan pintar? Jujur saja hal-hal hebat yang wanita itu lakukan  bukan apa-apa buatku. Wanita yang punya cita-cita yang sama denganku sama sekali tidak membuatku terpikat.
            Aku memang sedang bahagia. Aku pergi ke Kota Gala di utara dekat Borgues yang lumayan jauh dari Negeri Bonuci bersama Killi. Banyak yang kulakukan disini. Menjahit, memasak, berburu, dan menangkap pencuri kadang-kadang. Sebenarnya Kota Gala bukan negeri selembut Bonuci. Kehidupan tidak terstruktur rapi. Setiap hari sangat berwarna. Maksudku bukan warna yang baik. Dicuri, mencuri. Kadang-kadang ternakku menghilang.
Suatu hari, aku menemukan seorang pencuri dengan kaki tergantung dan kepala berayun. Ia menginjak jebakan yang sengaja kubuat.
            Aku tidak mengikat pencuri tersebut kemudian menyiksanya (sebagaimana yang biasa dilakukan tetangga-tetanggaku yang kurang ramah). Aku menyuruhnya belajar menjahit dan memasak. Juga memintanya mencoba gaun buatanku karena ia seorang wanita.
            Ya, si pencuri itu seorang wanita. Mungkin seumuran ibuku. Tapi ia teramat polos karena tidak pernah dididik. Walau begitu ia seperti Ibu bagi aku dan Killi. Ia tak punya nama. Jadi aku memberinya sebuah nama. Namanya Wilma.
            Aku sangat menikmati hidup bersama Killi dan Wilma. Wilma sangat pengertian mengenai hubungan kami yang salah. Kupikir karena Wilma belum terdoktrin keharusan daya tarik pada lawan jenis. Jadi konsep hubungan yang salah dan benar sama sekali tak berlaku pada pikirannya.
            Hari ini aku memasak dan menjahit di rumah. Giliran Killi yang berburu sekaligus menjadi tutor Wilma.
            Kondisiku sebenarnya baik-baik saja. Hanya saja aku memikirkan bagaimana Kerajaan Bonuci bertindak atas hilangnya diriku. Dan juga Killi.
            Aku merasa sedikit tidak enak pada pihak Bonuci. Dan tiba-tiba saja hawanya menjadi tidak enak. Aku mengamati gubuk kami yang kecil. Ruang yang terpisah dan tak terlihat hanya kamar mandi. Aku membuatnya demikian supaya aku bisa dengan mudah menangkap pencuri yang masuk ke dalam.
            Sudah lama aku tidak melakukan hal ini. Aku merapatkan diri ke dinding yang biasa kulakukan saat menyusup ke wilayah musuh. Teknik ini juga kulakukan jika ada penyusup yang masuk ke wilayahku. Hal ini memungkinkanku menemukan musuh lebih dulu.
            Mungkinkan itu Killi? Kami sering berlatih menyusup dengan cara seperti ini.
            “Killi?” suaraku lenyap terbawa angin. Tidak ada suara yang menyambut. Aku mendekati pintu kamar mandi, masih dengan merapatka diri ke dinding, kemudian membukanya. Aku mengambil pedang kemudian dengan cepat beralih posisi menodongkan senjata ke kamar mandi. Tidak ada orang. Berarti kupikir di meja dapur…
            Aku cepat berbalik dan langsung masuk, ke pertarungan ketika diriku diterjang oleh laki-laki bertopeng.
            Aku bertarung dengannya sebentar. Menggoresnya sekali kemudian bermain bertahan. Tidak lama kemudian aku tersenyum penuh kemenangan. Kemudian aku berkata,
            “Tidurlah.” Tidak lama kemudian obat tidur bekerja dengan baik. Larutannya sudah kuolesi di sekujur bilah pedangku sebelumnya. Goresan itu cukup dalam untuk membuatnya tertidur.
            Setelah si pria tersebut tertidur, aku membuka topengnya.
            Dia bukan anggota pasukan Bonuci. Aku tidak mengenali wajah pria ini. Tepat saat aku menyadari ada yang tidak beres, aku sudah terlambat untuk berbalik.
            “Dia pencuri lokal di Kota Gala. Laras dingin senapan menekan tengkorakku dari belakang. Aku teramat mengenali suara pemuda ini. Dia orang terakhir yang ingin kutemui.
            “Rixod,” desisku. “Lama tak bertemu dan pada akhirnya aku bertemu denganmu dalam kondisi seperti ini.”
            “Ah, betapa santunnya bicaramu pada kakakmu ini.” Larasnya menekan tengkorakku semakin keras. “Jadi lelaki cantik,  setelah minggat dari istana kau sudah benar-benar berubah menjadi wanita ya.”
            “Kau tidak lebih baik.” Kataku sengit. “Kau justru jadi utusan pihak Bonuci setelah meracuni Ibu dan melarikan diri.”
            Suasana begitu tegang hingga pintu terbuka.
            “Saya datang menjemput Anda Tuan Rixod.” Dia Taka. Kepala prajurit Istana. Ia menatapku. Kemudian menatap kembali pada Rixod. “Apa saya harus membawa Pangeran Tuan Rixod?”
            Rixod menjambakku ke atas dan melemparku ke arah Taka. Taka menangkapku dan barulah saat itu aku melihat Rixod.
            Ia tentu saja masih menodongkan senapannya. Ia berubah banyak. Tubuhnya besar, janggutnya berantakan. Dia masih tampan seperti dulu tapi tidak ada kelembutan di matanya. Matanya seakan menelanmu ke dalam jurang yang gelap dan sangat besar.
            “Tentu saja bodoh.” Rixod menyeringai. “Aku akan menjadi Pangeran lagi.”
            Saat itu hanya Killi yang aku pikirkan. Akulah yang pada mulanya ingin melarikan diri. Sebagian dari diriku ingin Killi menyelamatkanku. Bagaimanapun ia masih merasa dirinya harus melindungiku.
            Tapi aku benci kenyataan bahwa Killi adalah Sang Penyelamat. Dan dia akan terus merasa dirinya begitu.
            Aku ingin Killi tidak mencoba menyelamatkanku untuk sekali saja. Tapi aku tahu itu tidak mungkin.
***
            Aku menubruk Wilma. Ia tiba-tiba saja mematung di depanku.
            “Ada apa?” tanyaku heran.
            “Entahlah.” Ia mengangkat bahu. Menyahut tanpa melihatku. “Aku merasa aneh.”
            Aku tersenyum mendengarnya.
            “Itu bukan hal yang buruk.” Kataku.
            Wilma sering berkata bahwa dirinya aneh. Dan setiap kali itu juga aku berkata “aneh tidak terlalu buruk.” Namun kemudian aku mengerti sesuatu. Ini bukan anehnya Wilma yang biasa. Melainkan aneh yang tidak biasa.
            Entah bagaimana tiba-tiba saja aku menjadi begitu khawatir.
            “Tom.” Kemudian aku berlari. Wilma mengikutiku berlari dari belakang.
            Aku tidak pernah meragukan intuisi Wilma. Dia memang aneh. Ia terkadang bisa mengetahui peristiwa yang belum terjadi atau yang belum diceritakan. Kemudian aku ingin mengeluarkan petanyaan yang selalu kusimpan sejak bertemu dengan Wilma.
            “Mengapa kau tidak memotong tali itu saat kau tergantung di pohon karena jebakan Tom?”
            Wilma membisu.
            “Aku cukup yakin kau bawa pedang saat itu.” Mulutnya terkunci rapat. “Kau tahu akan bertemu kami.” Ujarku.
            Wilma tidak membantah
            Aku tidak punya waktu untuk menginterogasi Wilma. Pintu gubuk kami terbuka lebar. Aku bergegas masuk ke dalam dan tidak menemukan Pangeran Tom dimanapun.
            Aku terduduk lemas.
            “Tom…”
            Wilma mendekatiku dengan gugup.
            “Bonuci,” ujarnya pelan.
            “Apa?” tanyaku lemas.
            “Dia dibawa ke Bonuci.” Wilma tersenyum sedih. “ Maaf Killi, terkadang aku takut pada diriku sendiri. Aku tidak berhak atas apa yang kulihat.”
            “Kau…”
            “Pergi.” Katanya buru-buru. “Kau bisa menjemputku suatu hari nanti. Setelah masalah ini selesai.”
            Wilma mulai menangis. Aku punya firasat bahwa Wilma sebenarnya mengetahui bahwa aku tidak bisa menjemputnya lagi.
            Aku langsung saja memeluk Wilma dan bilang, “terima kasih.”
            Kukira waktuku tak banyak. Apapun bisa terjadi pada Tom saat ini. Mungkin saja dia sudah… aku tidak mau memikirkannya.
Satu hari penuh aku berkuda dan hanya minum air. Tapi aku tidak merasa lapar atau pun lelah. Aku hanya ingin cepat tiba. Menyelamatkan Tom. Hidup bertiga bersama Wilma lagi di kota Gala atau Bonuci. Yang mana pun tidak masalah.
Menyusup ke istana bukan perkara sulit bagiku. Namun waktu tak bisa berhenti sesuai keinginanku. Aku bisa saja terlambat dan gagal. Kemudian bermuram durja selamanya atau bahkan bunuh diri.
            Aku berhasil masuk. Menyapu prajurit di istana. Namun aku belum menemukan Tom.
Di tengah kebingunganku aku malah bertemu Taka Sang Kepala Prajurit
            “Taka…”
            Taka bukan bertemu denganku hanya untuk menyapa. Ia jelas-jelas mengacungkan pedangnya kepadaku.
            “Jadi kau juga memusuhiku.” Ucapku. Taka menyeringai. “Apa Raja yang memerintahkanmu?” Tanyaku
            Kemudian Taka malah tertawa terbahak-bahak.
            “Lelaki tua yang lucu itu?” tanyanya sengit.
            “Jadi…”
            “Tuan Rixod. Jangan salah paham. Aku tidak berkhianat.” Taka sudah berhenti tertawa. “Tuan Rixod yang membunuhnya. Dan kami tidak punya pilihan selain menuruti perintahnya. Bagaimanapun Sang Raja tidak pernah meninggalkan wasiat apapun. Dan Pangeran Tom menghilang.”
            “Hal seperti itu tidak bisa diterima!” Bantahku.
            “Anda tidak lebih baik, Killi Sang Penyelamat.” Wajahnya menjadi semakin dingin. “ Anda berkhianat.”
            Kemudian Taka menerjangku.
***
            Begitu terbangun tanganku telah dirantai sementara kakiku berlutut. Aku hanya memakai celana, berkeringat, kelelahan, dan tubuhku pegal-pegal.
            Aku melihat seorang wanita bergaun dan bergincu merah. Ia sangat cantik. Kemudian ia tersenyum dan berkata, “Aku disini untuk mendidikmu.”
            “Apa yang…” Ia mendekat kemudian mengecup rahangku. “Tidak!” Aku memberontak. Aku berusaha berdiri namun rantainya terlalu pendek. Aku bahkan tidak bisa menegakkan kakiku untuk menendangnya. “Hentikan!”
            Ia berhenti sejenak. Memandangiku.
            “Kau penyimpang. Kau beruntung menjadi seorang Pangeran. Setelah Rixod menemukan Killi, dia akan dibunuh.” Ujar wanita itu kesal.
            “Diam!” desakku. “Kau menjijikkan!”
            Aku berhasil meludahi pipinya. Tapi ia malah tersenyum dan menciumku. “Kau lebih sinting.”
            Wanita itu mengurasku habis-habisan hingga menjadi ampas. Kondisiku memang menyedihkan. Tapi aku mengkhawatirkan Killi dan Wilma.
            Pintu digebrak kencang. Rixod muncul dengan baju mewah dan jubah serta mahkota Raja. Janggutnya terpangkas rapi. Walau begitu, matanya tetap seperti binatang buas. Selain itu ia membawa sebuah karung yang berwarna merah karena berlumuran darah.
            Rixod mengeluarkan isi karung tersebut. Dan dalam keadaan mental yang luar biasa tertekan aku semakin terperanjat. Aku melihat kepala Ayahku tergeletak lemah di lanntai.
            “Kau!!” aku memberontak. Berusaha berdiri. Aku marah dan sedih. Rixod adalah monster. Dia sudah gila.
            “Ih, menjijikkan.” Si wanita pendidik mengernyitkan hidung.
            “Ahahaha…” Rixod tertawa seperti orang gila. “Berdirilah Danis. Sudah cukup kau mendidik bocah ini.”
            Wanita tersebut berdiri kemudian keluar dan menutup pintu. Aku menatap Rixod penuh kebencian.
            “Kau monster, kau gila, pembunuh! Kau dan pengikutmu yang terkutuk!” Aku menjerit-jerit.
            “Ah lihat siapa yang bicara. Menjerit-jerit seperti wanita saja.” Ia mengeluarkn gunting kain untuk menjahit. “Kau suka menggunakan gunting ini untuk menjahit kan?” Rixod menyeringai. “Bagaimana kalau kugunakan benda ini untuk memotong lidahmu yang tak pernah lelah itu?”
            Tiba-tiba saja aku teringat Killi. Lidah, mata, terserah.
            Aku menunduk sedalam mungkin. Aku bermaksud bersujud tapi rantainya terlalu pendek.
            “Kau boleh melakukan apa saja padaku. Tapi jangan pernah sakiti Killi.”
            “Apa aku memberimu pilihan?” tanyanya bosan.
            “Ya.” Jawabku tenang. “Akan kubuat begitu.” Aku teringat ucapan Killi tentang memutus rantai. Saat itu ia terlihat sedang bercanda. Tapi aku tahu ia serius.
            Aku tidak terlalu memahami sihir. Entah mengapa rasanya pengecut dan hina. Namun Killi pernah sekali belajar kitab Kabalah yang dibawa ayahnya (yang seorang pengembara) dari Mesir. Kitab pengikut Osiris.
            Aku menggigit ujung lidahku hingga berdarah, menelan darahku sendiri. Yang secara simbolis berarti menelan warna Dewa Set (merah) yang jahat. Kemudian aku membaca mantra. Aku menarik tanganku dan putuslah rantai tersebut.
            “Aku bisa saja membunuh…” perkataanku tersebut terputus segera setelah tanganku terkunci oleh Rixod dan ia membuka mulutku dengan gunting kain. Kedua kakiku ditahan oleh kedua kakinya.
            “Tom?” Killi? Pikirku.
            “Jangan bicara.” Perintahnya.
            Pintu terbuka. Muncullah Killi. Aku merindukannya setengah mati. Tapi sekarang bukan saat yang tepat untuk temu kangen.
            Perlgi!” aku berusaha bicara dan itulah kata terakhir yang aku ucapkan. Perlgi. Kemudian aku menjerit kencang. Lidahku dipotong. Aku sudah tak punya lidah. Dengan darah sebanyak ini aku bisa memutus rantai kapan saja.
            Selain itu, Killi sama sekali tidak menuruti perintahku.
            Killi menerjang Rixod penuh kebencian. Bertarung satu sama lain. Hingga keduanya berlumuran darah. Aku berusaha bilang berhenti tapi aku hanya bisa mengeluarkan suara “aakhakh..” yang bergetar serta menyedihkan sambil menahan rasa sakit.
            Aku ingin ikut bertarung melawan Rixod namun kakiku terasa seperti kertas.
            Aaaa…”Aku menangis meraung-raung.
            Rixod menusuk Killi tepat di jantungnya. Dan segera setelah itu Rixod tumbang. Aku menekan dadanya berkali-kali. Air mata dan darahku menghujani baju Killi.
            Killi hanya menarik kepalaku. Menciumku dan bilang. “Maafkan aku.” Dan lagi-lagi aku hanya bisa bilang aaaaa. Darahku membasahi bibirnya. “Apa yang… lidahmu.” Wajah Killi begitu bersedih hingga diriku juga menjdai semakin pedih.
            Aaaa..” Jangan mati.
            “Sudahlah, jangan menangis.” Tidak mungkin.
            Killi mulai ikut terisak. Dan berkali-kali meminta maaf soal lidahku dan sebagainya.
            Tiba-tiba saja mata Killi membelalak. “Tom!” Bunyi senapan memecah ketegangan. Wilma dating dengan luka dimana-mana. Rixod yang hendak menyerangku jatuh menimpa diriku.
            Killi tersenyum lega. Aku kembali menekan dada Killi. Berusaha menghentikan pendarahannya.
            Aaaa..” Jangan mati.
            “Tom, dengar.” Nafas Killi memburu. Ia terbatuk-batuk. “Aku memenuhi tanggung jawabku… dan janji pada Taka…”
            Aku tak mengerti mengapa Killi menyebut nama Taka. Terakhir kali aku bertemu Taka itu bukan pertemuan yang menyenangkan.
            “Ia ternyata… tidak begitu jahat.” Killi terkekeh. Nafasnya semakin memburu dan ia berkeringat sebesar biji jagung. “Katanya… selamatkan Pangeran.”
            Kemudian Killi terbatuk-batuk dan merengkuh wajahku.
            “Sebenarnya aku ingin melihat wajahmu lengkap dengan lidah.” Ia tersenyum pedih.
            Aaaa…Aku tidak apa-apa! Jangan mati.
            “Tom, aku cinta padamu.” Setelah berkata begitu, Killi membisu. Nafasnya berhenti.
            Aku menangis meraung-raung. Hatiku terasa sangat pedih. Melebihi pedihnya darah yang mengucur dari lidahku. Aku terus menangis sambil memeluk Killi. Ia menjadi semakin berat dan jauh.
***
            20 Agustus 1703
Begitulah ceritanya Wilma. Aku sudah tidak punya lidah, jadi aku menulis kisah ini untukmu. Apa aku sekarang bisa mempercayaimu? Karena baru sekarang kau memberitahuku kalau kau ternyata mampu mengetahui apa yang dialami Killi dan aku. Apa semua yang dialami Killi adalah benar? Karena setelah aku menyusun kisah kami seperti ini, aku merasa begitu sedih karena kisah kami begitu memilukan.
            Dan terima kasih sudah mau membaca kisah yang sebenarnya sudah kau ketahui. Aku kehilangan lidahku, Ibuku (cerita lama), Ayahku, Kakakku yang jahat (sebenarnya bukan masalah besar), Kepala Prajurit yang setia, serta Killi Sang Penyelamat yang paling kucintai. Tinggal dirimu dan bagian tubuhku yang lain yang tersisa. Keberadaanmu yang menjadi alasan aku masih hidup.
            Terima kasih Wilma.
Tom Féstller XI
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar